GOOGLOE
Sukses Adalah Pilihan
Saturday, June 25, 2016
Thursday, May 19, 2016
Orang Toraja
Toraja merupakan sebuah suku yang berada di pedalaman Sulawesi selatan. Orang Toraja berasal dari bahasa Bugis, yaitu To yang artinya orang atau dalam bahasa Indonesia sendiri di sebut Tau dan Riaja yang artinya gunung. Jadi Toraja artinya orang gunung. Orang Toraja mempunyai ciri-ciri, antara lain
Dulu ada yang mengira bahwa Teluk Tonkin, terletak antara Vietnam utara dan Cina selatan, adalah tempat asal suku Toraja. Sebetulnya, orang Toraja hanya salah satu kelompok penutur bahasa Austronesia. Awalnya, imigran tersebut tinggal di wilayah pantai Sulawesi, namun akhirnya pindah ke dataran tinggi.
Sejak abad ke-17, Belanda mulai menancapkan kekuasaan perdagangan dan politik di Sulawesi melalui Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Selama dua abad, mereka mengacuhkan wilayah dataran tinggi Sulawesi tengah (tempat suku Toraja tinggal) karena sulit dicapai dan hanya memiliki sedikit lahan yang produktif. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai khawatir terhadap pesatnya penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama di antara suku Makassar dan Bugis. Belanda melihat suku Toraja yang menganut animisme sebagai target yang potensial untuk dikristenkan. Pada tahun 1920-an, misi penyebaran agama Kristen mulai dijalankan dengan bantuan pemerintah kolonial Belanda.[2] Selain menyebarkan agama, Belanda juga menghapuskan perbudakan dan menerapkan pajak daerah. Sebuah garis digambarkan di sekitar wilayah Sa'dan dan disebut Tana Toraja. Tana Toraja awalnya merupakan sub divisi dari kerajaan Luwu yang mengklaim wilayah tersebut. Pada tahun 1946, Belanda memberikan Tana Toraja status regentschap, dan Indonesia mengakuinya sebagai suatu kabupaten pada tahun 1957.
Misionaris Belanda yang baru datang mendapat perlawanan kuat dari suku Toraja karena penghapusan jalur perdagangan budak yang menguntungkan Toraja. Beberapa orang Toraja telah dipindahkan ke dataran rendah secara paksa oleh Belanda agar lebih mudah diatur. Pajak ditetapkan pada tingkat yang tinggi, dengan tujuan untuk menggerogoti kekayaan para elit masyarakat. Meskipun demikian, usaha-usaha Belanda tersebut tidak merusak budaya Toraja, dan hanya sedikit orang Toraja yang saat itu menjadi Kristen. Pada tahun 1950, hanya 10% orang Toraja yang berubah agama menjadi Kristen.
Penduduk Muslim di dataran rendah menyerang Toraja pada tahun 1930-an. Akibatnya, banyak orang Toraja yang ingin beraliansi dengan Belanda berpindah ke agama Kristen untuk mendapatkan perlindungan politik, dan agar dapat membentuk gerakan perlawanan terhadap orang-orang Bugis dan Makassar yang beragama Islam. Antara tahun 1951 dan 1965 setelah kemerdekaan Indonesia, Sulawesi Selatan mengalami kekacauan akibat pemberontakan yang dilancarkan Darul Islam, yang bertujuan untuk mendirikan sebuah negara Islam di Sulawesi. Perang gerilya yang berlangsung selama 15 tahun tersebut turut menyebabkan semakin banyak orang Toraja berpindah ke agama Kristen.
Pada tahun 1965, sebuah dekret presiden mengharuskan seluruh penduduk Indonesia untuk menganut salah satu dari lima agama yang diakui: Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Buddha.Kepercayaan asli Toraja (aluk) tidak diakui secara hukum, dan suku Toraja berupaya menentang dekret tersebut. Untuk membuat aluk sesuai dengan hukum, ia harus diterima sebagai bagian dari salah satu agama resmi. Pada tahun 1969, Aluk To Dolo dilegalkan sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma
Dulu ada yang mengira bahwa Teluk Tonkin, terletak antara Vietnam utara dan Cina selatan, adalah tempat asal suku Toraja. Sebetulnya, orang Toraja hanya salah satu kelompok penutur bahasa Austronesia. Awalnya, imigran tersebut tinggal di wilayah pantai Sulawesi, namun akhirnya pindah ke dataran tinggi.
Sejak abad ke-17, Belanda mulai menancapkan kekuasaan perdagangan dan politik di Sulawesi melalui Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Selama dua abad, mereka mengacuhkan wilayah dataran tinggi Sulawesi tengah (tempat suku Toraja tinggal) karena sulit dicapai dan hanya memiliki sedikit lahan yang produktif. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai khawatir terhadap pesatnya penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama di antara suku Makassar dan Bugis. Belanda melihat suku Toraja yang menganut animisme sebagai target yang potensial untuk dikristenkan. Pada tahun 1920-an, misi penyebaran agama Kristen mulai dijalankan dengan bantuan pemerintah kolonial Belanda.[2] Selain menyebarkan agama, Belanda juga menghapuskan perbudakan dan menerapkan pajak daerah. Sebuah garis digambarkan di sekitar wilayah Sa'dan dan disebut Tana Toraja. Tana Toraja awalnya merupakan sub divisi dari kerajaan Luwu yang mengklaim wilayah tersebut. Pada tahun 1946, Belanda memberikan Tana Toraja status regentschap, dan Indonesia mengakuinya sebagai suatu kabupaten pada tahun 1957.
Misionaris Belanda yang baru datang mendapat perlawanan kuat dari suku Toraja karena penghapusan jalur perdagangan budak yang menguntungkan Toraja. Beberapa orang Toraja telah dipindahkan ke dataran rendah secara paksa oleh Belanda agar lebih mudah diatur. Pajak ditetapkan pada tingkat yang tinggi, dengan tujuan untuk menggerogoti kekayaan para elit masyarakat. Meskipun demikian, usaha-usaha Belanda tersebut tidak merusak budaya Toraja, dan hanya sedikit orang Toraja yang saat itu menjadi Kristen. Pada tahun 1950, hanya 10% orang Toraja yang berubah agama menjadi Kristen.
Penduduk Muslim di dataran rendah menyerang Toraja pada tahun 1930-an. Akibatnya, banyak orang Toraja yang ingin beraliansi dengan Belanda berpindah ke agama Kristen untuk mendapatkan perlindungan politik, dan agar dapat membentuk gerakan perlawanan terhadap orang-orang Bugis dan Makassar yang beragama Islam. Antara tahun 1951 dan 1965 setelah kemerdekaan Indonesia, Sulawesi Selatan mengalami kekacauan akibat pemberontakan yang dilancarkan Darul Islam, yang bertujuan untuk mendirikan sebuah negara Islam di Sulawesi. Perang gerilya yang berlangsung selama 15 tahun tersebut turut menyebabkan semakin banyak orang Toraja berpindah ke agama Kristen.
Pada tahun 1965, sebuah dekret presiden mengharuskan seluruh penduduk Indonesia untuk menganut salah satu dari lima agama yang diakui: Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Buddha.Kepercayaan asli Toraja (aluk) tidak diakui secara hukum, dan suku Toraja berupaya menentang dekret tersebut. Untuk membuat aluk sesuai dengan hukum, ia harus diterima sebagai bagian dari salah satu agama resmi. Pada tahun 1969, Aluk To Dolo dilegalkan sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma
Saturday, May 14, 2016
Ciri- ciri Umum Orang Toraja
Saya sudah membaca sebuah artikel di salah satu blog tentang ciri-ciri khas orang Toraja. Klik di sini kalo mau baca. Menurut saya, artikel tersebut tidak menggambarkan ciri-ciri khas orang Toraja secara keseluruhan. Oleh karena itu di artikel ini saya akan menambahkan beberapa ciri- ciri yang lain.
Bersuara keras
Karena orang Toraja aslinya berada di atas pegunungan, yang medannya di penuhi lembah perbukitan, serta rumah yang saling berjauhan, jadi untuk berkomunikasi mereka harus memperbesar volume suara mereka beberapaoktaf lebih tinggi di banding suku lain yang berada di dataran rendah. Jadi jangan heran jika di daerah lain ada yang meneriakkan nama Anda dengan suara melengking, dipastikan itu teman Anda dari kampong halaman. Namun sekarang karena perkembangan teknologi, dan di temukannya ponsel, maka untuk teriak-teriak kayaknya sudah sedikit ditinggalkan.
Logat yang kental
Dikampung halaman, orang Toraja lebih nyaman berbicara menggunakan bahasa nenek moyang mereka yaitu bahasa Toraja. Bahkan kalo mencoba menggunakan bahasa Indonesia, maka dia akan di cemooh "bahasa Toraya mba'mokan kami" . Makanya kalo ketemu orang dari suku lain dan harus berbahasa Indonesia, logat kental mereka akan keluar. Kata-kata yang tidak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia seperti : le', toda',sia, ba', dan lain-lain, kadang mengalir dengan deras dari mulut orang Toraja yang mencoba berbahasa Indonesia. Namun saatini sudah banyak kok orang Toraja yang mulai belajar menggunakan bahasa Indonesia tanpa menggunakan dialek atau menggunakan dialek yang populer di Televisi ( macam logat Jakarta itu) .
Ma' Lindo-lindo duku' bai
Ma'lindo-lindo duku'bai merupakan ciri muka tradisional asli orang Toraja. Tidak jelas bagaimana sebenarnya definisi pasti dari Ma'lindo-lindo duku'bai tersebut. Namun beberapa orang di luar sana menyimpulkan bahwa yang di maksud dengan "Ma'lindo-lindo duku'bai" adalah orang yang bermuka hitam dekil, berminyak ,dan segi empat.
Tapi jangan salah, walaupun masih banyak yang stay mempertahankan ketradisionalan muka mereka, namun tak sedikit pula orang Toraja jaman sekarang terutama yang muda-muda bertransformasi menjadi orang kota yang modis dan cantik dengan muka putih karena menggunakan pemutih made in china.
Baik dan Sopan
Pada dasarnya orang Toraja itu baik, sopan dan rendah hati, karena memang dari kecil mereka di didik untuk itu. Orang Toraja percaya bahwa berlaku baik dan sopan serta rendah hati dapat mendatangkan berkat (dalle') dalam kehidupan mereka. Selain itu bisa menghindarkan diri pribadi maupun keluarga dari sanksi sosial berupa siri' atau malu.
Namun, karena perubahan pola hidup dan adanya global warming jaman sekarang ada saja orang Toraja yang melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma dan nilai. Tak heran, akhir-akhir ini banyak kasus kriminal yang terjadi di Toraja, walaupun relatif lebih sedikit di banding dengan daerah-daerah lain di Indonesia.
Kurang percaya diri
Jika kalian pernah sekelas dengan orang Toraja di sekolah ataupun di kampus, maka di pastikan mereka akan memilih tempat duduk paling belakang. Ini karena mereka percaya bahwa yang paling berpotensi di tunjuk oleh guru maupun dosen untuk menjawab atau mengerjakan soal adalah orang yang duduknya paling depan. Namun ini bukan berarti orang Toraja itu bodoh atau kurang pandai, banyak kok orang Toraja yang pandai. Hal ini, hanya karena mereka kurang percaya diri dan takut berlebihan.
Suka bergerombol
Di mana ada orang Toraja, di situ pasti ada orang Toraja yang lain. Betulkan? Yap, karena orang Toraja memang lebih nyaman bergaul bersama dengan sesama mereka orang Toraja yang notabene punya kesamaan hampir dari segala aspek mulai dari bahasa, budaya, kebiasaan, makanan, agama, dan lain-lain. Inilah penyebab sehingga orang Toraja agak susah bergaul dengan orang dari suku lain. Walaupun kembali lagi bahwa jaman sekarang orang -orang Toraja sudah banyak terbuka terhadap orang dari suku lain, terutama mereka yang memang lahir dan besar di perantauan.
Beragama Kristen (no SARA)
Sebagian besar orang Toraja merupakan penganut agama Kristen, baik Katolik maupun Protestan. Ini agak berbeda dengan suku lain yang ada di Sulawesi Selatan yang kebanyakan beragama Islam. Namun bukan berarti orang Toraja sama sekali tidak ada yang beragama lain. Walaupun jumlahnya yang relatif sedikit, di Toraja ada juga orang yang menganut agama Islam, baik pendatang maupun orang Toraja asli. Dan salah satu hal yang patut di banggakan dari orang Toraja adalah mereka sangat menjunjung tinggi sifat toleransi dalam beragama. Tak heran, hampir tidak ada isu-isu perselisihan antar agama di Toraja. Salut.
Pintar-pintar
Banyak orang Toraja yang berprestasi bukan hanya di Toraja, tapi juga di luar Toraja. Salah satu contoh orang Toraja yang pintar adalah Dr. Ir. Jonathan Para'pak, M.Eng. Beliau adalah rektor Universitas Pelita Harapan. Dan ini tidak di bahas di artikel yang saya maksud tadi yaitu :
http://art-andarias.blogspot.co.id/2016/05/ciri-ciri-khas-orang-toraja.htm
Ramah Kepada Orang Lain
Seperti di bahas pad poin sebelumnya bahwa orang Toraja itu sopan, baik dan rendah hati, juga orang Toraja di kenal sebagai orang yang ramah dan bersahaja
Itulah tambahan beberapa ciri-ciri khas orang Toraja yang tidak ada di artikel yang saya baca tersebut.
Sumber utama :
http://art-andarias.blogspot.co.id/2016/05/ciri-ciri-khas-orang-toraja.htm
Bersuara keras
Karena orang Toraja aslinya berada di atas pegunungan, yang medannya di penuhi lembah perbukitan, serta rumah yang saling berjauhan, jadi untuk berkomunikasi mereka harus memperbesar volume suara mereka beberapa
Logat yang kental
Dikampung halaman, orang Toraja lebih nyaman berbicara menggunakan bahasa nenek moyang mereka yaitu bahasa Toraja. Bahkan kalo mencoba menggunakan bahasa Indonesia, maka dia akan di cemooh "bahasa Toraya mba'mokan kami" . Makanya kalo ketemu orang dari suku lain dan harus berbahasa Indonesia, logat kental mereka akan keluar. Kata-kata yang tidak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia seperti : le', toda',sia, ba', dan lain-lain, kadang mengalir dengan deras dari mulut orang Toraja yang mencoba berbahasa Indonesia. Namun saatini sudah banyak kok orang Toraja yang mulai belajar menggunakan bahasa Indonesia tanpa menggunakan dialek atau menggunakan dialek yang populer di Televisi ( macam logat Jakarta itu) .
Ma' Lindo-lindo duku' bai
Ma'lindo-lindo duku'bai merupakan ciri muka tradisional asli orang Toraja. Tidak jelas bagaimana sebenarnya definisi pasti dari Ma'lindo-lindo duku'bai tersebut. Namun beberapa orang di luar sana menyimpulkan bahwa yang di maksud dengan "Ma'lindo-lindo duku'bai" adalah orang yang bermuka hitam dekil, berminyak ,dan segi empat.
Tapi jangan salah, walaupun masih banyak yang stay mempertahankan ketradisionalan muka mereka, namun tak sedikit pula orang Toraja jaman sekarang terutama yang muda-muda bertransformasi menjadi orang kota yang modis dan cantik dengan muka putih karena menggunakan pemutih made in china.
Baik dan Sopan
Pada dasarnya orang Toraja itu baik, sopan dan rendah hati, karena memang dari kecil mereka di didik untuk itu. Orang Toraja percaya bahwa berlaku baik dan sopan serta rendah hati dapat mendatangkan berkat (dalle') dalam kehidupan mereka. Selain itu bisa menghindarkan diri pribadi maupun keluarga dari sanksi sosial berupa siri' atau malu.
Namun, karena perubahan pola hidup dan adanya global warming jaman sekarang ada saja orang Toraja yang melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma dan nilai. Tak heran, akhir-akhir ini banyak kasus kriminal yang terjadi di Toraja, walaupun relatif lebih sedikit di banding dengan daerah-daerah lain di Indonesia.
Kurang percaya diri
Jika kalian pernah sekelas dengan orang Toraja di sekolah ataupun di kampus, maka di pastikan mereka akan memilih tempat duduk paling belakang. Ini karena mereka percaya bahwa yang paling berpotensi di tunjuk oleh guru maupun dosen untuk menjawab atau mengerjakan soal adalah orang yang duduknya paling depan. Namun ini bukan berarti orang Toraja itu bodoh atau kurang pandai, banyak kok orang Toraja yang pandai. Hal ini, hanya karena mereka kurang percaya diri dan takut berlebihan.
Suka bergerombol
Di mana ada orang Toraja, di situ pasti ada orang Toraja yang lain. Betulkan? Yap, karena orang Toraja memang lebih nyaman bergaul bersama dengan sesama mereka orang Toraja yang notabene punya kesamaan hampir dari segala aspek mulai dari bahasa, budaya, kebiasaan, makanan, agama, dan lain-lain. Inilah penyebab sehingga orang Toraja agak susah bergaul dengan orang dari suku lain. Walaupun kembali lagi bahwa jaman sekarang orang -orang Toraja sudah banyak terbuka terhadap orang dari suku lain, terutama mereka yang memang lahir dan besar di perantauan.
Beragama Kristen (no SARA)
Sebagian besar orang Toraja merupakan penganut agama Kristen, baik Katolik maupun Protestan. Ini agak berbeda dengan suku lain yang ada di Sulawesi Selatan yang kebanyakan beragama Islam. Namun bukan berarti orang Toraja sama sekali tidak ada yang beragama lain. Walaupun jumlahnya yang relatif sedikit, di Toraja ada juga orang yang menganut agama Islam, baik pendatang maupun orang Toraja asli. Dan salah satu hal yang patut di banggakan dari orang Toraja adalah mereka sangat menjunjung tinggi sifat toleransi dalam beragama. Tak heran, hampir tidak ada isu-isu perselisihan antar agama di Toraja. Salut.
Pintar-pintar
Banyak orang Toraja yang berprestasi bukan hanya di Toraja, tapi juga di luar Toraja. Salah satu contoh orang Toraja yang pintar adalah Dr. Ir. Jonathan Para'pak, M.Eng. Beliau adalah rektor Universitas Pelita Harapan. Dan ini tidak di bahas di artikel yang saya maksud tadi yaitu :
http://art-andarias.blogspot.co.id/2016/05/ciri-ciri-khas-orang-toraja.htm
Ramah Kepada Orang Lain
Seperti di bahas pad poin sebelumnya bahwa orang Toraja itu sopan, baik dan rendah hati, juga orang Toraja di kenal sebagai orang yang ramah dan bersahaja
Itulah tambahan beberapa ciri-ciri khas orang Toraja yang tidak ada di artikel yang saya baca tersebut.
Sumber utama :
http://art-andarias.blogspot.co.id/2016/05/ciri-ciri-khas-orang-toraja.htm
Thursday, April 26, 2012
I'm Sorry Mom
Saya menyesal. Itulah kata yang sering keluar dari mulut kita ketika kita menyakiti hati orang tua kita. Saat sayamenulis posting ini, saya telah melakukan perbuatan yang telah menyakiti hati ibu saya. Saya telah melakukan hal yang tidak seharusna saya lakuakan. Saya tahu bahwa hal tersebut telah membuat Ibu saya kecewa bahkan menangis. Tapi apa boleh buat hal itu telah berlalu. Hanya penyesalan yang ada saat ini. Saya telah terlalusering berjanji untuk diri saya sendiri untuk menjadiorang yang berbakti kepada orang tua namun apa boleh buat saya telah melakukannya. Saya hanya dapat meminta maaf. Itulah yang harus saya lakukan. Ilovemyfamily
Monday, April 2, 2012
Tips Agar Selesai Kuliah Tepat Waktu Dengan IPK 3,XX
Ups kalo baca judul diatas kayaknya banyak mahasiswa yang ragu (heheh pasti). Secara mereka berpikir bahwah hal itu adalah mustahil. Tapi saya akan memberi beberapa tips agar hal tersebut menjadi mungkin dan kita yang jadi mahasiswa bisa lulus tepat waktu (4 tahun) dengan IPK diatas 3.
Yang namanya mahasiwa kan pengennya cepat cepat selesai, tapi kadang keinginan tersebut menjadi samar karena ada beberapa faktor misalnya semester awal mereka banyak yang ketinggalan, berpikir bahwah semakin keatas maka kuliah akan semakin susah, menemui banyak dosen dosen yang katanya killer, tidak mempunyai perencanaan yang matang, dan yang pasti karena faktor lingkungan (pergaulan begitu) dan masih banyak lagi.
Kembali kejudul. Pertama yang harus kita pahami disini adalah lulus tepat waktu berarti menghemat biaya kuliah dari orang tua, kita harus memikirkan hal tersebut . Nah gimana caranya, Ini dia tips tips nya
Dan dengan demikian pula kita bisa cepat cepat kerja sehingga mengumpilkan banyak uang untuk masa tua kita dan juga anak daan istri kita . Demikian yanh. Kira kira udah berapa nih kata yang saya tulis?
Yang namanya mahasiwa kan pengennya cepat cepat selesai, tapi kadang keinginan tersebut menjadi samar karena ada beberapa faktor misalnya semester awal mereka banyak yang ketinggalan, berpikir bahwah semakin keatas maka kuliah akan semakin susah, menemui banyak dosen dosen yang katanya killer, tidak mempunyai perencanaan yang matang, dan yang pasti karena faktor lingkungan (pergaulan begitu) dan masih banyak lagi.
Kembali kejudul. Pertama yang harus kita pahami disini adalah lulus tepat waktu berarti menghemat biaya kuliah dari orang tua, kita harus memikirkan hal tersebut . Nah gimana caranya, Ini dia tips tips nya
- Meyakinkan diri sendiri bahwah lulus tepat waktu dengan IPK tinggi merupakan pertanggung jawaban kita kepada orang tua kita yang telah mebiayai kita.
- Merencanakan dengan matang rencana kuliah kita dengan berkosultasi pada dosen PA yang telah di tunjuk dari Universitas.
- Memperbanyak pergaulan dengan senior-senior, atau alumni yang memang telah lulus sesuai keinginan kita
- Belajar dengan baik.
- Rajin kekampus dan mencari tahu informasi, jangan sampai ketinggalan informasi itu penting
- Membangun citra positif dikalangan dosen, nggap papa kalo dibilang cari muka
- Buatlah daftar tentang kredit yang ketinggalan dan yang akan direncanakan dangan matang.
- Tinggalkan kebiasaan kebiasaan buruj seperti bagadang sampai pagi, minum-minum keras.
- Perhatikan jika dosen mengajar
- Ulangi pelajaran tersebut dirumah(hehe sama aja yang diatas)
- Makan dengan teratur
- Minum banyak air putih
- Makan sayuran
- Jangan teralalu banyak makan makan cepat saji (alami)
- Jangan boros, berhematlah
- Jangan terlalu bergaya sederhana saja
- Kekampus tepat waktu
- Perbanyak membaca berita
Dan dengan demikian pula kita bisa cepat cepat kerja sehingga mengumpilkan banyak uang untuk masa tua kita dan juga anak daan istri kita . Demikian yanh. Kira kira udah berapa nih kata yang saya tulis?
Subscribe to:
Comments (Atom)